Namanya Mbah Atma. Pejuang Kemerdekaan RI yang terlupakan. Jasanya yang begitu besar bak angin lalu. Seolah tak ada yang peduli padanya. Padahal, dia pernah terjun ke medan peperangan, bertempur melawan penjajah.  Dia rela nyawanya menjadi taruhannya.

Kakek tua yang tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggiran hutan Gunung Mananggel itu hidup sederhana dan menjalani hari-hari terakhirnya dengan tabah. Saat kami temui, dia bercerita panjang tentang perjuangannya.

Jangan pernah memperlakukan kasar orang yang sudah tak berdaya. Itu pesan ibu saya ketika melepas saya pergi untuk bergabung dengan pasukan Pak Kentjong,” ujarnya. Rekam jejaknya sebagai prajurit dapat Anda dijumpai dalam Orang-Orang di Garis Depan karya Hendi Jo.

Kini, dalam usianya yang sudah lanjut, Mbah Atma sering sakit-sakitan.

Ada juga veteran lain yang nasibnya tak kalah pilu. Orang-orang biasa memanggilnya “Pak Karna”. Pemilik nama lengkap Ahmad Sukarna ini sudah berumur 98 tahun. Dia prajurit yang pernah bergabung dengan satuan Lasjkar Caringin di bawah pimpinan Mayor Harun Kabir dan Letnan Soeroso.

Saat berjuang di Jalan Caringin, Bogor (tempat markasnya dulu), seperti pengakuannya sendiri, di situlah kali pertama dia melihat wajah Bung Karno. Selama bertempur, tak jarang dia menghadapi situasi di mana harus merasakan ajal betul-betul dekat.

Namun setelah Indonesia merdeka sampai sekarang, dia memilih menjadi orang biasa. Masa lalunya tinggal kenangan. Keringat darah yang pernah dia tumpahkan untuk membela negerinya dulu hanya menjadi bahan ingatan.

Sekarang, dia bernasib tak jauh seperti Mbah Atma, hidup dalam kesederhanaan, bahkan kekerungan.

Selain mereka berdua, masih banyak veteran lain yang dulu juga sempat berjuang namun sekarang terpaksa harus menjalani kepiluan nasib di masa senja. Ada sekitar 40-an veteran lain yang hidup miskin, yang seharusnya tak lagi bekerja dan tinggal menikmati masa tuanya dalam ibadah. Mereka malah kadang terpaksa tetap banting tulang hanya untuk mencari sesuap nasi. Hingga ada yang harus menjadi pengemis di pinggiran kota.

Maka, kami dari tim Historika terpanggil untuk membantu mereka. Program terakhir yang sedang kami garap adalah membantu mereka berlebaran, karena mengingat sebentar lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Para eks-veteran pejuang bangsa itu juga berhak berlebaran sebagaimana kita, tanpa harus dibebani oleh masalah ekonomi. Karena bagaimanapun, mereka benasib seperti itu lantara telah menghabiskan masa mudanya berjuang demi kemerdekaan kita.

Program Veteran Berlebaran yang sedang kami kampanyekan ini akan melakukan kunjungan ke 50 veteran. Kami akan menyambangi mereka yang tersebar di 15 kota di seluruh Indonesia.

Kepada rekan-rekan dan para dermawan yang ingin berpartisipasi, silakan hubungi pihak kami melalui kontak di bawah ini:

Kontak Penanggung Jawab:

Basyith: 081287771165

Adapun donasi Anda dapat disalurkan melalui nomor rekening berikut:

Rekening Mandiri:

101 000 777 8093 a/n Historika Indonesia